Tanamkan Nilai Keikhlasan, Kemenag Kota Pasuruan Sampaikan Materi “Ketika Lelah Menjadi Lillah”
Menjadi guru bukan sekadar menjalankan tugas profesi, tetapi juga merupakan bentuk pengabdian yang sarat nilai ibadah. Pesan inilah yang disampaikan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Pasuruan Kecamatan Panggungrejo, Muhammad Nafik, S.Psi., saat menjadi narasumber dalam kegiatan pembinaan spiritual bagi guru dan tenaga pendidik SMPN 6 Kota Pasuruan (10/10).
Mengusung tema “Ketika Lelah Menjadi Lillah: Menemukan Makna, Keikhlasan, dan Keberkahan dalam Pengabdian Guru”, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran spiritual sekaligus memperkuat motivasi para pendidik agar senantiasa menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Kegiatan dipandu oleh Akhmad Rifai, S.Pd.I., selaku moderator. Dalam sambutannya, Kepala SMPN 6 Kota Pasuruan, Yani Masyithah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kehadiran narasumber. Ia berharap pembinaan tersebut dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi penyemangat bagi seluruh guru dan tenaga pendidik dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Muhammad Nafik mengajak para guru untuk memandang aktivitas mendidik tidak hanya sebagai kewajiban profesional, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Dengan niat yang tulus, pekerjaan yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab dapat bernilai ibadah.
Menurutnya, kelelahan dalam mengajar, mendampingi peserta didik, mempersiapkan pembelajaran, hingga menyelesaikan berbagai tugas administrasi merupakan bagian dari dinamika profesi guru. Namun, semua itu dapat dimaknai secara lebih mendalam ketika dijalani dengan niat yang benar, kesabaran, dan keikhlasan.
“Ketika lelah menjadi lillah, kita belajar memaknai setiap pengorbanan sebagai bagian dari ibadah. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak, memberikan keteladanan, dan membentuk karakter generasi masa depan,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam pembinaan tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya tajdidun niyat, yakni memperbarui dan meluruskan niat dalam setiap aktivitas. Menurutnya, menjaga niat menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan semangat pengabdian, terutama ketika menghadapi beragam tantangan dalam dunia pendidikan.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
Melalui pembinaan ini, para guru diajak menjadikan keikhlasan sebagai fondasi pengabdian, kesabaran sebagai kekuatan, dan keteladanan sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Dengan niat yang terjaga dan semangat untuk terus berbuat baik, guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih bermakna serta memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter peserta didik.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran strategis Penyuluh Agama Islam dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas di berbagai lingkungan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Diharapkan, pembinaan spiritual ini dapat menjadi pengingat bagi seluruh guru dan tenaga pendidik SMPN 6 Kota Pasuruan bahwa setiap upaya dalam mendidik memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya mencerdaskan generasi penerus bangsa, tetapi juga menjadi ladang amal kebaikan yang membawa keberkahan.
