Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kota Pasuruan Hadirkan Pengharapan Baru bagi Warga Binaan Lapas
Masa pembinaan bukan akhir dari perjalanan hidup. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan menata masa depan yang lebih baik. Pesan inilah yang disampaikan Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kota Pasuruan, Resmi Tumanggor, S.Pd.K., saat memberikan pelayanan BETHANY kepada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kota Pasuruan, Rabu (19/8), pukul 12.30 WIB.
Kegiatan yang berlangsung di Lapas Kelas IIB Kota Pasuruan, Jalan Panglima Sudirman Nomor 4, Kecamatan Purworejo, ini menjadi bagian dari upaya pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan. Melalui pelayanan keagamaan, warga binaan diajak memperkuat iman, menumbuhkan harapan, serta membangun semangat untuk menjalani proses pembinaan dengan lebih baik.
Dalam pelayanan tersebut, Resmi mengangkat tema “Pengharapan Baru di Dalam Kristus”, dengan berlandaskan firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:17 dan 1 Yohanes 1:9. Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap masa pembinaan, menerima pengampunan, serta berani melangkah menuju kehidupan yang baru.
Resmi mengajak warga binaan untuk tidak memandang masa di balik jeruji besi semata-mata sebagai masa penderitaan, melainkan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kehidupan.
“Tempat ini mungkin membatasi ruang gerak kita, tetapi tidak pernah membatasi kasih Allah. Masa pembinaan dapat menjadi kesempatan untuk membentuk karakter, memulihkan diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik,” demikian pesan yang disampaikan dalam renungan rohani tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa rasa bersalah dan penyesalan atas masa lalu tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan. Melalui 1 Yohanes 1:9, warga binaan diajak memahami bahwa Tuhan memberikan pengampunan kepada setiap orang yang mau mengakui kesalahannya dengan tulus.
Menurutnya, meskipun masa lalu tidak dapat diubah, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya. Karena itu, warga binaan didorong untuk belajar mengampuni orang lain, melepaskan kepahitan, serta berdamai dengan diri sendiri agar dapat menjalani kehidupan dengan hati yang lebih tenang.
Lebih lanjut, Resmi menegaskan bahwa perubahan hidup tidak harus menunggu seseorang bebas dari Lapas. Perubahan dapat dimulai sejak sekarang melalui kebiasaan sederhana, seperti menjaga tutur kata, menghindari konflik, membangun kebiasaan berdoa, dan membaca firman Tuhan.
Ia juga mengajak warga binaan untuk memanfaatkan berbagai program pembinaan dan pelatihan keterampilan sebagai bekal ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Pesan tersebut selaras dengan 2 Korintus 5:17 yang mengingatkan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Identitas seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kesalahan masa lalunya, tetapi juga oleh kesediaannya untuk berubah dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Melalui pelayanan BETHANY ini, Kementerian Agama Kota Pasuruan terus berupaya menghadirkan pendampingan rohani bagi warga binaan agar mereka tetap memiliki harapan, memperkuat kehidupan spiritual, dan mempersiapkan diri untuk kembali berperan positif di tengah masyarakat.
Sebab, kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka. Masa lalu menjadi pelajaran, masa kini menjadi kesempatan untuk berubah, dan masa depan tetap menyimpan harapan.
