Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kota Pasuruan Ajak Warga Binaan Bangkit dari Kegagalan
Kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan hidup. Setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan menata masa depan yang lebih baik. Pesan penuh pengharapan ini disampaikan Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kota Pasuruan, Resmi Tumanggor, S.Pd.K., saat memberikan pembinaan rohani kepada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kota Pasuruan, Rabu (19/8), pukul 12.30 WIB.
Kegiatan yang berlangsung di Lapas Kelas IIB Kota Pasuruan, Jalan Panglima Sudirman Nomor 4, Kecamatan Purworejo, ini menjadi bagian dari upaya pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan. Melalui pendampingan rohani, mereka diajak untuk memperkuat iman, memulihkan semangat hidup, serta menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan positif.
Dalam pembinaan tersebut, Resmi mengangkat tema “Pemulihan Hidup dan Kebangkitan Setelah Kegagalan”, dengan landasan firman Tuhan dari Mikha 7:8 dan Yohanes 21:15–17.
Ia mengajak warga binaan untuk tidak terus terbelenggu oleh penyesalan atas masa lalu. Menurutnya, perasaan gagal, kehilangan kepercayaan diri, hingga kekhawatiran menghadapi masa depan merupakan pergumulan yang perlu dihadapi dengan iman dan kemauan untuk berubah.
Melalui Mikha 7:8, warga binaan diingatkan bahwa kejatuhan bukanlah akhir dari segalanya. Firman Tuhan menegaskan bahwa sekalipun seseorang jatuh dan berada dalam kegelapan, selalu ada harapan untuk bangkit kembali dengan pertolongan Tuhan.
Resmi juga mengangkat kisah Petrus yang pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali serta Daud yang pernah melakukan kesalahan besar. Namun, perjalanan hidup keduanya tidak berhenti pada kegagalan. Mereka memperoleh kesempatan untuk mengalami pemulihan dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
“Kegagalan di masa lalu adalah sebuah peristiwa, bukan identitas diri. Kita mungkin pernah jatuh, tetapi selalu ada kesempatan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan menjalani kehidupan yang lebih baik,” menjadi pesan penting dalam pembinaan tersebut.
Lebih lanjut, melalui kisah pemulihan Petrus dalam Yohanes 21:15–17, Resmi menekankan bahwa kasih Tuhan tidak berhenti ketika seseorang melakukan kesalahan. Yesus memberikan kesempatan kepada Petrus untuk memulihkan hubungannya dengan Tuhan dan kembali menjalankan panggilannya.
Pesan ini menjadi penguatan bagi warga binaan yang mungkin sedang bergumul dengan rasa bersalah, penyesalan terhadap keluarga, luka batin, maupun kekhawatiran akan penerimaan masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Mereka diajak untuk tidak membiarkan masa lalu menentukan seluruh perjalanan hidup. Sebaliknya, pengalaman yang telah dilalui hendaknya menjadi pelajaran untuk membangun karakter, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan menumbuhkan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Melalui pembinaan rohani ini, warga binaan diharapkan dapat menemukan kembali harapan, membangun kepercayaan diri, serta mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat dengan semangat baru.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud komitmen Kementerian Agama Kota Pasuruan dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan. Pendampingan spiritual diharapkan dapat menjadi bekal dalam proses pembinaan sekaligus mendorong perubahan perilaku yang lebih baik.
Sebab, seseorang tidak selamanya ditentukan oleh kegagalannya. Selama masih ada kemauan untuk berubah, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan memulai lembaran kehidupan yang baru.
