Nisfu Syaban, Waktu Terbaik Mengharap Ampunan dan Keberkahan
Kegiatan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) rutin kembali dilaksanakan pada Senin, 2 Februari 2026, bertempat di Mushola Al-Ikhlas. Pada kesempatan tersebut, kultum disampaikan oleh Akhmad Rifai, S.Pd.I., Penyuluh Agama Islam Kecamatan Gadingrejo, dengan mengangkat tema keutamaan Malam Nisfu Syaban sebagai momentum refleksi dan peningkatan amal ibadah.
Dalam tausiyahnya, Akhmad Rifai menyampaikan bahwa setiap manusia tentu memiliki harapan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus catatan amal yang kurang baik dengan rahmat dan ampunan-Nya. Ia mengingatkan agar waktu dan umur yang telah dianugerahkan tidak disia-siakan, melainkan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbanyak amal kebaikan semata-mata karena Allah dan Rasulullah SAW.
“Panjang umur sejatinya adalah doa dan harapan, agar kita diberi kesempatan lebih lama untuk terus taat dan memperbanyak amal saleh,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk senantiasa memohon rezeki yang halal dan thayyib. Menurutnya, kebahagiaan hidup tidak diukur dari banyaknya rezeki, melainkan dari keberkahannya.
“Rezeki yang sedikit namun halal dan thayyib akan terasa cukup dan menenteramkan. Sebaliknya, rezeki yang banyak tetapi tidak halal sering kali tidak membawa ketenangan,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa keberkahanlah yang menjadikan rezeki benar-benar bermanfaat dalam kehidupan.
Selain keberkahan rezeki, Akhmad Rifai juga menekankan pentingnya memohon keberkahan dalam pekerjaan dan penghidupan. Dengan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa yang dimiliki akan terasa mencukupi dan membawa kebaikan.
“Jangan lelah berdoa, karena doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh insyaAllah akan didengar dan dikabulkan oleh Allah,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya memohon keteguhan iman hingga akhir hayat. Menurutnya, kondisi iman seseorang saat ini belum tentu menjamin keimanannya di masa mendatang. Oleh karena itu, umat Islam harus senantiasa bersyukur, mendekatkan diri kepada Allah, dan terus berdoa agar ditetapkan dalam Islam dan iman hingga akhir hayat.
“Hati manusia mudah berbolak-balik, maka kita perlu terus memohon agar Allah menetapkan iman kita dan menganugerahi husnul khatimah,” pesannya.
Menutup kultumnya, Akhmad Rifai mengajak jamaah menjadikan momentum menjelang bulan suci Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk bermuhasabah, membersihkan hati, memperbaiki niat, dan mempersiapkan diri guna meningkatkan kualitas ibadah. Ia berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal ibadah, mengampuni dosa-dosa, melimpahkan keberkahan hidup, serta menjadikan seluruh jamaah sebagai hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam kebaikan.
