Menapaki Perjalanan Hidup Menuju Keselamatan, Kultum di Musala Al-Ikhlas Angkat Tafsir Surat ‘Abasa

  • Humas Kemenag
  • Disukai 0
  • Dibaca 89 Kali

Musala Al-Ikhlas kembali menggelar kegiatan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) pada Senin, 9 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh para jamaah dengan penuh kekhusyukan sebagai bagian dari upaya penguatan nilai-nilai keimanan serta sarana refleksi diri dalam kehidupan sehari-hari.

Bertindak sebagai pemberi kultum, Ainul Yaqin, S.Pd.I., selaku Penyuluh Agama KUA Purworejo, menyampaikan tausiyah dengan mengangkat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat ‘Abasa ayat 33–42. Ayat tersebut memberikan gambaran tentang perjalanan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti menempuh perjalanan kehidupan, namun arah dan akhirnya tidak selalu sama.

“Setiap manusia pasti sedang menempuh perjalanan hidup. Namun, meskipun tampak sama di awal, arah dan tujuan akhirnya bisa sangat berbeda. Ada yang lurus menuju keselamatan, dan ada pula yang menyimpang,” tutur Ainul Yaqin.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan perbedaan wajah dan keadaan manusia kelak di akhirat. Sebagian wajah tampak berseri dan penuh kebahagiaan sebagai tanda keselamatan, sementara sebagian lainnya berada dalam kondisi yang sebaliknya. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan cerminan dari perjalanan hidup dan amal perbuatan yang dijalani manusia selama di dunia.

“Perbedaan keadaan manusia di akhirat bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Semua itu adalah hasil dari pilihan, sikap, dan amal perbuatan yang dilakukan semasa hidup,” jelasnya.

Ainul Yaqin menambahkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gambaran tersebut sebagai peringatan agar manusia senantiasa melakukan introspeksi diri. Apa yang akan dihadapi di masa depan, baik kebahagiaan maupun penyesalan, merupakan buah dari apa yang dikerjakan saat ini.

“Allah memberi peringatan melalui ayat ini agar kita tidak terkejut di kemudian hari. Setiap nikmat yang Allah titipkan—baik harta, kesempatan berzakat, maupun karunia lainnya—harus dijadikan jalan untuk kembali dan mendekat kepada-Nya,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua keinginan manusia akan terwujud sesuai dengan kehendaknya, karena terdapat ketentuan Allah yang harus diterima dengan penuh keimanan.

“Tidak semua yang kita inginkan akan terwujud. Di situlah letak keimanan kita, yaitu menerima ketentuan Allah dengan ikhlas dan penuh kesadaran,” pungkasnya.

Melalui kultum ini, jamaah diharapkan dapat memahami pesan yang terkandung dalam Surat ‘Abasa ayat 33–42 serta mempersiapkan diri sejak dini agar kelak termasuk golongan orang-orang yang selamat dan terhindar dari penyesalan di akhirat.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *