Kultur Leluhur dan Konservasi Mangrove Sebagai Titik Temu Antar Umat Beragama
KULTUR LELUHUR DAN KONSERVASI MANGROVE SEBAGAI TITIK TEMU ANTARUMAT BERAGAMA
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pasuruan bersama perwakilan Badan Kesbangpol dan Kementerian Agama Kota Pasuruan menggelar kegiatan studi tiru bertema “Optimalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pembentukan Kampung Sadar Kerukunan Kota Pasuruan." (25/10)
Kegiatan diawali dengan ramah tamah dan diskusi lintas agama yang membahas nilai-nilai universal tentang persaudaraan, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Suasana hangat penuh keakraban tercipta ketika peserta saling berbagi pandangan tentang pentingnya menjaga harmoni dalam keberagaman.
Selanjutnya, peserta melakukan anjangsana ke rumah-rumah warga dan rumah ibadah di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, untuk melihat secara langsung potret kehidupan masyarakat yang majemuk dan rukun dalam keseharian mereka.
Sebagai Wakil Dewan Pembina FKUB Kota Pasuruan sekaligus Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pasuruan, Dr. H. Rasyidi, S.Ag., M.Si. turut hadir mendampingi kegiatan studi tiru tersebut. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan rasa haru dan kekagumannya terhadap harmoni kehidupan warga Desa Sidodadi.
“Kampung ini memiliki tempat istimewa di hati saya, karena dari sinilah saya pernah menimba ilmu hingga meraih gelar doktoral. Dan kini, saya kembali menyaksikan bagaimana nilai-nilai kearifan lokal menjadi dasar kuat kerukunan umat,” ungkapnya dengan penuh kesan.
Sementara itu, Sohibul Izzar, tokoh sekaligus penggagas Kampung Moderasi Beragama Desa Sidodadi, memberikan penjelasan komprehensif tentang konsep moderasi yang hidup di desanya. Menurutnya, kerukunan masyarakat Sidodadi tumbuh dari kultur leluhur, kegiatan pemberdayaan, dan kepedulian terhadap alam yang tidak membedakan agama.
“Semua agama mengajarkan untuk menjaga alam. Dalam Hindu ada konsep Tri Hita Karana — tiga penyebab kebahagiaan melalui harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Dalam Islam pun dikenal ajaran Hablum Minallah, Hablum Minannas, dan Hablum Minal Alam. Nilai-nilai ini menjadi jembatan spiritual bagi kita semua,” jelasnya.
Sebagai penutup, seluruh peserta melakukan susur Sungai Bajulmati dan penanaman mangrove di kawasan Pantai Ungapan, Kabupaten Malang, sebagai simbol kepedulian terhadap ekologi dan semangat persaudaraan lintas agama. Dengan penuh semangat, rombongan meneriakkan yel-yel khas: “Nang Pasar Legi tuku tauge, mari sukseskan ekoteologi bersama FKUB!” Kegiatan pun berakhir dengan penuh kebersamaan, meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana kearifan lokal dan konservasi alam dapat menjadi titik temu yang indah antarumat beragama.
