Kemenag Kota Pasuruan Gelar Penanaman Pohon Matoa & Dialog Tokoh Lintas Agama dalam Rangka HAB ke-80 Tahun 2026
Semangat pelestarian lingkungan dan harmoni antarumat beragama kembali digaungkan melalui kegiatan Penanaman Pohon Matoa dan Dialog Tokoh Lintas Agama Penguatan Implementasi Ekoteologi dengan tajuk utama “Hijaukan Kotaku, Hijaukan Bumiku”, Kamis pagi (20/11). Kegiatan ini merupakan wujud sinergi antara Kementerian Agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Gereja Tabernakel Indonesia (GTI), dan Pemerintah Kota Pasuruan dalam rangka menyambut Hari Amal Bhakti (HAB) Kemenag ke-80 Tahun 2026.
Bertindak sebagai tuan rumah, GTI Bukit Zaitun yang terletak di Kecamatan Pekuncen menyambut para tamu undangan dengan hangat. Hadir secara langsung Wakil Wali Kota Pasuruan, H. M. Nawawi, MM., Ketua FKUB Kota Pasuruan, H. Ma’mur Salim, M.Si., beserta jajaran pengurus, Kepala Bakespangpol Kota Pasuruan, Imam Subekti, S.Sos., MM., serta perwakilan Kantor Kemenag Kota Pasuruan yang diwakili Kasubag TU, Moh. Isnaini Yulad, MM., bersama jajarannya. Tuan rumah turut menyambut langsung Pdt. Trifena Kurniawaty.
Awali dengan Penanaman Pohon Matoa
Kegiatan diawali dengan penanaman pohon Matoa di beberapa titik halaman GTI Bukit Zaitun. Penanaman ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menghijaukan Kota Pasuruan dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup, sejalan dengan nilai ekoteologi yang diusung.
Dialog Lintas Agama: Ekoteologi sebagai Titik Temu
Selepas kegiatan penanaman pohon, para peserta dipersilakan memasuki area gereja untuk mengikuti Dialog Tokoh Lintas Agama yang membahas konsep ekoteologi dari berbagai perspektif agama. Dalam sambutannya, Pdt. Trifena Kurniawaty menyampaikan rasa syukurnya karena GTI Bukit Zaitun dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan lintas agama yang membawa pesan positif bagi lingkungan.
“Tuhan memerintahkan manusia untuk memelihara dan melestarikan ciptaan-Nya. Ini menegaskan bahwa bumi adalah anugerah yang dipercayakan Tuhan kepada manusia untuk dijaga, dirawat, dan dipelihara. Tugas ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi agar alam tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang,” ungkapnya.
Selaras dengan itu, perwakilan Kemenag Kota Pasuruan, Moh. Isnaini Yulad, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan bahwa seluruh ajaran agama telah memberikan landasan kuat untuk mencintai dan merawat lingkungan.
“Saya meyakini bahwa semua agama mengajarkan pentingnya harmoni—hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Alam ini bukan milik kita; ia adalah titipan dari anak cucu kita. Maka sudah seharusnya kita kembalikan dalam keadaan sama baiknya atau bahkan lebih baik. Alhamdulillah, melalui kegiatan ini kita berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan tempat tinggal kita bersama,” ujarnya.
Paparan Ekoteologi dari Berbagai Agama
Acara berlanjut dengan sesi dialog, di mana masing-masing tokoh agama memaparkan konsep ekoteologi berdasarkan ajaran keagamaannya. Sesi ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa nilai pelestarian lingkungan merupakan titik temu seluruh agama, sekaligus fondasi untuk memperkuat kerukunan dan kepedulian sosial.
