KELEKATAN SUMBER KETIDAKBAHAGIAAN

  • Humas Kemenag
  • Disukai 1
  • Dibaca 12 Kali

Sebagai seorang muslim, kita diingatkan melalui ayat di atas bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Kita hanya memiliki hak untuk menggunakannya. Sewaktu-waktu, ketika Sang Pemilik mengambilnya kembali, kita harus ikhlas melepaskannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak di antara kita yang begitu melekat pada sesuatu sehingga sulit berpisah dengannya karena merasa sebagai pemiliknya. Sikap mental seperti inilah yang membuat kita menderita dan bersedih ketika sewaktu-waktu harus kehilangan sesuatu.

Bagaikan seekor burung, kita harus berani melepaskan ranting yang sedang kita cengkeram agar bisa melesat menuju ranting yang lebih tinggi. Ranting-ranting yang kita cengkeram itu ibarat berbagai bentuk kelekatan, baik yang ada di dalam maupun di luar diri kita. Di dalam diri, kelekatan bisa berupa keyakinan, ide, dan ingatan. Sementara itu, di luar diri, kelekatan bisa berwujud orang-orang yang kita cintai, kekayaan, kedudukan, atau hak istimewa.

Selama kita mencengkeram erat segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar diri serta takut kehilangan apa yang kita miliki, kita tidak akan pernah bisa hidup bebas. Kesedihan akan mudah menghampiri ketika ada sesuatu yang terlepas dari genggaman kita.

Lihatlah seekor burung. Dengan melepaskan satu ranting yang dicengkeramnya, burung tersebut mampu menghabiskan sisa hidupnya dengan hinggap di atas jutaan ranting lainnya untuk menikmati pemandangan yang lebih indah. Hal ini juga berlaku bagi kita. Jika ingin menjalani hidup yang lebih indah dan bermakna, janganlah terpaku terlalu kuat pada segala sesuatu yang kita anggap sebagai milik kita.

Mungkin Anda bertanya, “Haruskah saya melepaskan semua yang saya miliki?”

Tidak! Bukan itu maksudnya. Namun, hendaknya secara mental kita tidak terikat pada sesuatu yang kita miliki. Segala sesuatu yang saat ini ada dalam genggaman kita hendaknya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan dipertahankan mati-matian seolah-olah akan menjadi milik kita selamanya.

Jika kita terus berusaha mempertahankan sesuatu dan merasa memilikinya, bahkan hanya dalam pikiran, kita justru akan membangkitkan ketakutan. Takut kehilangan, takut digeser, takut dimutasi, dan berbagai bentuk ketakutan lainnya. Ingat, ketakutan adalah stres, ketakutan adalah rasa sakit, dan ketakutan merupakan salah satu sumber ketidakbahagiaan.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Ingatlah tiga hal berikut.

  1. Di dunia ini, kita hanya memiliki hak pakai. Rumah yang kita tempati pun bisa berpindah tangan kepada orang lain, termasuk istri kita (eh, jangan keras-keras!). Hakikatnya, segala sesuatu adalah milik Allah Swt.
  2. Tidak mungkin kita memiliki segala-galanya. Bahkan, apa yang saat ini kita miliki tidak selamanya berada dalam genggaman. Sewaktu-waktu, semuanya bisa berubah dan berpindah kepada orang lain.
  3. Jika kita tidak mau melepaskan, tidak akan ada ruang bagi sesuatu yang baru untuk hadir. Ibarat air yang tidak dikeluarkan dari gelas, tidak akan tersedia ruang untuk menampung air yang baru.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mencatat segala bentuk kelekatan yang selama ini kita pertahankan mati-matian. Apakah itu jabatan, ide atau pendapat, hak istimewa, dan berbagai hal lainnya? Cobalah lepaskan satu demi satu, kemudian ajukan pertanyaan kepada diri sendiri, “Seperti apakah kehidupan ini jika kita tidak lagi terikat pada semua itu? Bisakah kita hidup tanpa kemelekatan?”

Jawabannya: bisa! Meskipun berbagai hal yang selama ini menjadi sumber kelekatan masih ada di sekitar kita, kita tidak lagi mempertahankannya mati-matian dan tidak lagi dihantui ketakutan akan kehilangannya.

Jika hal itu sudah bisa kita lakukan, berarti kita sedang mengamalkan pesan ayat Al-Qur’an di atas sekaligus mempelajari salah satu seni kehidupan yang paling berharga dari berbagai ajaran pencerahan, yaitu seni ketidaklekatan.

Oleh: Moh.Isnaini Yulad



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *