Balasan Kebaikan

  • Humas Kemenag
  • Disukai 4
  • Dibaca 18 Kali

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ 

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).

(QS. Ar Rahman ; 55 : 60).


Bisa jadi, kenyamanan hidup yang kita rasakan saat ini tidak lepas dari buah kebaikan yang pernah dilakukan oleh orang tua, kakek-nenek, ataupun para leluhur kita. Bukan kita yang melakukan kebaikan itu, tetapi kitalah yang menerima balasannya. Ada rentang waktu yang cukup panjang antara kebaikan yang dilakukan dan balasan yang diterima. Penerimanya pun tidak harus orang yang melakukan kebaikan tersebut. Boleh jadi, balasan itu diterima oleh keturunannya, seperti kita saat ini.

Ya, satu hal yang pasti, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Itulah jaminan yang disampaikan dalam kitab suci, sebagaimana kandungan ayat di atas.

Namun, kita yang saat ini cenderung menjadi manusia materialistis sering kali berpikir dua kali ketika hendak melakukan kebaikan. Mengapa? Karena kita menginginkan balasan yang datang sesaat setelah kebaikan dilakukan, tanpa jeda waktu yang panjang. Balasan itu harus kita sendiri yang menikmatinya, harus datang dari orang yang kita tolong, dan kalau bisa, nilainya melebihi kebaikan yang telah kita berikan.

Itulah salah satu ciri ketika cara pandang materialistis mulai menguasai diri kita. Padahal, balasan atas setiap kebaikan merupakan rahasia Tuhan. Bisa jadi, inilah bentuk ujian bagi kita: apakah kita masih ringan tangan dalam berbuat baik ketika balasannya tidak datang seketika? Ketika balasan itu bukan berasal dari orang yang kita tolong? Atau ketika yang menerima balasannya bukan kita sendiri?

Hanya diri kita yang tahu jawabannya.

Ada sebuah cerita inspiratif yang patut kita teladani sekaligus renungkan.

Alkisah, seorang penjual koran berkeliling di sebuah kawasan perumahan. Suatu hari, saat sedang berjualan, ia merasa kehausan. Ia kemudian mendatangi seorang ibu muda untuk meminta segelas air putih.

Ibu muda tersebut berasal dari keluarga berada. Merasa iba melihat penjual koran itu, ia memintanya menunggu sebentar, lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil minuman. Namun, ketika kembali, bukan segelas air putih yang dibawanya, melainkan segelas air susu untuk diberikan kepada penjual koran tersebut.

Penjual koran itu pun meminum air susu tersebut dengan penuh rasa syukur dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan sang ibu. Setelah kejadian itu, keduanya berpisah dan tidak bertemu lagi dalam waktu yang lama. Masing-masing kembali menjalani kesibukannya.

Puluhan tahun kemudian, setelah suami tercinta meninggal dunia, ibu dalam cerita tersebut beranjak tua dan sering jatuh sakit. Sebagian besar harta benda yang dimilikinya telah habis untuk biaya pengobatan. Ketika penyakit yang dideritanya mengharuskannya dirujuk ke sebuah rumah sakit modern di kota besar, berangkatlah ia ke sana.

Berbagai pelayanan medis dijalaninya hingga akhirnya ia harus menjalani operasi agar dapat sembuh dari penyakitnya. Dalam hati, sang ibu sudah memperkirakan betapa besar biaya yang harus dikeluarkannya untuk seluruh rangkaian pengobatan tersebut.

Setelah dinyatakan sembuh, ia diperbolehkan pulang dan diminta menyelesaikan administrasi pengobatannya. Namun, betapa terkejut sekaligus harunya ia ketika membaca kuitansi pembayaran yang diterimanya. Di sana tertulis:

“LUNAS TERBAYAR DENGAN SEGELAS AIR SUSU.”

Akhirnya, sang ibu mengetahui bahwa dokter yang merawatnya tidak lain adalah penjual koran yang puluhan tahun silam pernah diberinya segelas air susu.

Sungguh, sebuah kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus ternyata dapat meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan seseorang. Kita tidak pernah tahu kapan, melalui siapa, dan dalam bentuk apa kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita.

Maka, jangan pernah ragu untuk berbuat baik hanya karena kita belum melihat balasannya. Jangan pula berhenti menolong hanya karena orang yang kita tolong tidak mampu membalasnya. Sebab, balasan kebaikan tidak selalu datang secara langsung, tidak selalu melalui orang yang sama, dan tidak selalu kita nikmati sendiri.

Mahabenar Allah dengan firman-Nya: “Bukankah balasan kebaikan itu adalah kebaikan pula?”

Oleh: Moh. Isnaini Yulad



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *