Usai Rabiul Awwal, Penyuluh Agama Kemenag Kopas Ajak ASN Tetap Istiqamah Bershalawat
Berakhirnya bulan Rabiul Awwal bukan alasan untuk mengakhiri kebiasaan bershalawat. Pesan itulah yang disampaikan Khamzah, S.Pd.I., dalam kultum rutin di Musholla Al-Ikhlas Kementerian Agama Kota Pasuruan, Senin (14/9).
Mengangkat tema tentang pentingnya istiqamah dalam bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, Khamzah mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Maulid Nabi bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi sebagai titik awal untuk semakin mencintai Rasulullah ﷺ dan membiasakan shalawat dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai ketika bulan Rabiul Awwal kita begitu semangat bershalawat, tetapi setelah bulan Rabiul Awwal berlalu, shalawat juga ikut ditinggalkan. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus terus hidup dalam hati dan diwujudkan dengan memperbanyak shalawat,” pesannya.
Dalam kultumnya, Khamzah juga menyampaikan sejumlah hadis tentang keutamaan bershalawat. Salah satunya mengingatkan umat Islam agar tidak meremehkan shalawat kepada Rasulullah ﷺ, terlebih ketika nama beliau disebut.
Hadis lainnya menyebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bershalawat kepada beliau. Menurut Khamzah, pesan tersebut menunjukkan besarnya keutamaan memperbanyak shalawat sekaligus mengajarkan bahwa rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ perlu diwujudkan melalui amalan nyata.
Karena itu, shalawat tidak seharusnya hanya hadir dalam acara Maulid Nabi, pengajian, atau majelis keagamaan. Shalawat dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, misalnya setelah salat, ketika nama Rasulullah ﷺ disebut, saat dalam perjalanan, maupun ketika memiliki waktu luang.
“Bershalawat bisa dimulai dari hal sederhana. Yang penting dilakukan secara istiqamah dan sesuai kemampuan,” lanjutnya.
Khamzah menegaskan, semangat yang tumbuh selama Rabiul Awwal hendaknya terus dibawa ke bulan-bulan berikutnya. Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk memperbarui kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Kecintaan tersebut juga dapat diwujudkan dengan mempelajari sirah Nabi, mengenal sunnah beliau, serta berusaha meneladani akhlak mulia Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kultum rutin ini, jamaah Musholla Al-Ikhlas Kemenag Kota Pasuruan diajak untuk menjadikan shalawat sebagai amalan yang terus hidup dalam keseharian. Sebab, semangat mencintai Rasulullah ﷺ tidak mengenal musim.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
