Perkuat “Sense of Belonging”, ASN Kemenag Diingatkan Jaga Marwah Instansi
Menjadi ASN Kementerian Agama bukan sekadar menjalankan rutinitas pekerjaan. Di balik setiap tugas, ada amanah, integritas, dan tanggung jawab untuk menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat. Semangat inilah yang mengemuka dalam kegiatan Pembinaan ASN di Lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota Wilayah Kerja Malang, yang diikuti jajaran ASN Kementerian Agama Kota Pasuruan bersama ASN Kemenag kabupaten/kota wilayah kerja Malang.
Pembinaan menghadirkan Tenaga Ahli Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. H. Muhamad Ainul Yakin, S.Sy., M.A.P., serta diisi arahan dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Kankemenag Kabupaten Malang, Drs. Sahid, M.M. Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran pejabat Kementerian Agama yang memberikan bimbingan dan pembinaan secara langsung kepada ASN di wilayah kerja Malang.
Menurutnya, pembinaan menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman ASN terhadap arah kebijakan dan program Kementerian Agama, sekaligus menjaga semangat dalam menjalankan tugas.
“Karena kita ini seorang aparatur sipil negara, kita membutuhkan siraman, membutuhkan pembinaan. Kalau tidak sering memperoleh penguatan dan pembinaan, tentu kita akan kehilangan arah dalam menjalankan tugas,” ungkapnya.
Ia berharap momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkaya informasi, memperkuat komitmen, serta meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat.
ASN Kemenag Diminta Bangun Sense of Belonging
Dalam sesi pembinaan, Dr. H. Muhamad Ainul Yakin, S.Sy., M.A.P. menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan sebagai salah satu fondasi kemajuan negara. Sebagai institusi yang memiliki amanah besar di bidang pendidikan, khususnya madrasah, Kementerian Agama dituntut terus menghadirkan kualitas layanan dan pendidikan yang semakin baik.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap institusi Kementerian Agama. Menurutnya, ASN harus memiliki rasa memiliki terhadap institusi atau sense of belonging, sehingga setiap sikap dan perilaku senantiasa mencerminkan nilai-nilai positif Kementerian Agama.
“Angka dumas Kemenag masih cukup tinggi, terutama dalam sektor madrasah. Kita sebagai ASN Kemenag harus memiliki sense of belonging terhadap instansi. Jangan sampai tingkah laku dan tindak-tanduk kita merugikan instansi kita. Amanah sebagai ASN Kemenag harus dibawa ke mana pun kita berada,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa profesionalitas ASN tidak hanya tercermin ketika berada di lingkungan kantor, tetapi juga melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Totalitas dalam Amanah, Siapkan Masa Depan Sejak Dini
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I., mengajak ASN untuk menjalankan setiap amanah dengan keyakinan dan totalitas.
Ia menyampaikan sebuah kisah tentang seseorang yang hendak menyeberangi lautan untuk menjalankan tugas menikahkan seseorang. Berbagai rintangan menghadang, mulai dari ombak besar, angin hingga topan. Namun, keyakinannya tetap satu: menjalankan perintah Allah dengan sungguh-sungguh, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
“Yakinlah bahwa ketika kita totalitas menjalankan perintah Allah, Allah akan menyelesaikannya. Allah akan mengaturnya. Maka jangan sekali-kali kita menjadi ragu atas apa yang akan kita lakukan,” pesannya.
Menurutnya, prinsip tersebut juga relevan dalam menjalankan tugas sebagai ASN. Keyakinan perlu berjalan beriringan dengan keberanian, perencanaan, dan tanggung jawab, termasuk dalam mempersiapkan kehidupan setelah masa pengabdian sebagai ASN berakhir.
Ia pun mengingatkan pentingnya menyiapkan kondisi finansial sejak jauh hari sebelum memasuki masa pensiun. Salah satunya dengan menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan yang kemudian dapat dikembangkan melalui investasi produktif.
“Kalau ada tabungan pensiun, misalnya sebagian dari gaji kita sisihkan, kemudian diinvestasikan dan dikembangkan, insyaallah ketika pensiun kita sudah memiliki bekal,” ujarnya.
Beragam peluang dapat dipertimbangkan, mulai dari properti, usaha kos-kosan di sekitar kampus atau pondok pesantren, hingga usaha kuliner. Baginya, persiapan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun kemandirian dan memastikan masa pensiun tetap menjadi fase kehidupan yang produktif dan bermanfaat.
Pembinaan ASN ini sekaligus menjadi ruang refleksi bagi jajaran Kementerian Agama untuk terus memperkuat integritas, profesionalitas, kualitas pelayanan, serta kesiapan menghadapi masa depan. Sebab, menjadi ASN Kementerian Agama bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan hari ini, tetapi juga menjaga amanah dan menghadirkan kebermanfaatan di setiap langkah pengabdian.
