Penyuluh Agama KUA Bugul Kidul Sampaikan Pesan Penguatan Iman di Lapas Pasuruan
Khusyu' dan khidmat, Tarawih dan kultum Ustadz Ainul Yaqin menyejukkan warga binaan lapas
Semarak Ramadhan 1447 H di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pasuruan terasa semakin khidmat. Pada Selasa malam (24/02), yang bertepatan dengan malam ke-6 Ramadhan, Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Bugul Kidul, Ustadz M. Ainul Yaqin, S.Pd hadir memenuhi tugas pengabdian sebagai imam shalat tarawih sekaligus pengisi kultum bagi warga binaan.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Ainul Yaqin menekankan bahwa kemuliaan bulan Ramadhan bersifat tetap, namun rasanya akan sangat bergantung pada kondisi hati setiap muslim. Mengutip hadis masyhur, ia merincikan fase Ramadhan dalam tiga bagian utama:
"Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka."
Iman Sebagai Penentu Kualitas Ibadah
Beliau menjelaskan bahwa di bulan ini, pahala ibadah wajib dilipatgandakan dan ibadah sunnah diganjar setara ibadah wajib. Namun, semua keistimewaan itu hanya bisa dirasakan jika seseorang memiliki iman yang kokoh.
"Ramadhan akan terasa istimewa jika kita mengistimewakannya. Jika iman kita kuat, kita akan semangat mengejar tadarus dan sedekah. Sebaliknya, jika iman menurun, Ramadhan akan terasa hambar. Padahal Ramadhannya sama, yang berubah adalah kadar keimanan di hati kita," tegasnya di hadapan para jamaah warga binaan.
Menjaga Puasa dan Pahala
Lebih lanjut, ia memberikan edukasi mengenai dua aspek krusial dalam berpuasa:
Menjaga Syariat: Disiplin terhadap waktu mulai puasa (imsak) hingga berbuka.
Menjaga Hakikat: Menghindari hal-hal yang menggugurkan pahala puasa, seperti lisan yang gemar ghibah, berkata kotor, serta menjaga pandangan dan perut dari asupan yang haram.
Menutup kultumnya, Ustadz Ainul Yaqin mengajak jamaah untuk merefleksikan sabda Rasulullah SAW mengenai ampunan dosa bagi mereka yang berpuasa atas dasar iman dan mengharap ridha Allah (iimanan wahtisaban). Ia berharap agar seluruh warga binaan tidak sekadar mendapatkan lapar dan dahaga, namun keluar sebagai pemenang yang dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar.(AIN)
