Kemenag Kota Pasuruan Perkuat Peran Penyuluh sebagai Garda Kerukunan Umat Beragama

  • Humas Kemenag
  • Disukai 2
  • Dibaca 16 Kali

“Peran penyuluh agama Kemenag sebagai garda terdepan memiliki andil penting dalam meredam konflik dan mempertahankan toleransi untuk menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Pasuruan.”

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Kankemenag Kota Pasuruan, Dr. H. Rasyidi, S.Ag., M.Si., saat membuka Dialog Penguatan Kerukunan Umat Beragama di Aula Kemenag Kota Pasuruan, Rabu (9/9).

Menurut Rasyidi, posisi penyuluh agama memiliki arti strategis dalam menjaga harmoni kehidupan masyarakat. Penyuluh tidak hanya hadir untuk memberikan edukasi keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu ujung tombak dalam membaca dinamika sosial, membangun komunikasi, serta meredam potensi konflik yang muncul di tengah masyarakat.

Kota Pasuruan sendiri memiliki karakter masyarakat yang beragam. Sebagai Kota Santri, kehidupan religius menjadi bagian kuat dari identitas masyarakat. Namun, keberagaman tersebut berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial yang toleran dan harmonis.

Kondisi itu turut tercermin dari capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kota Pasuruan sebesar 7,05. Capaian tersebut menempatkan Kota Pasuruan sebagai daerah dengan tingkat kerukunan dan stabilitas sosial yang sangat baik dalam Harmoni Award 2025.

Penguatan kerukunan juga menjadi perhatian Tim Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kemenag Kanwil Jawa Timur. Ketua Tim KUB Kemenag Kanwil Jawa Timur, Dr. Wakid Evendi, S.Ag., M.Ag., yang akrab disapa Pak Awe, menyampaikan bahwa keberagaman harus mendapatkan ruang yang aman, adil, dan harmonis dalam kehidupan masyarakat.

“Keberagaman beragama harus terjamin dan tercermin dengan baik di Jawa Timur,” tegas Wakid.

Ia menjelaskan, penguatan kerukunan tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, penyuluh agama memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan umat dan memahami dinamika sosial di tingkat akar rumput.

Wakid juga menyampaikan bahwa Tim KUB Kemenag Kanwil Jawa Timur akan terus melakukan identifikasi terhadap berbagai persoalan kerukunan sekaligus merumuskan strategi penguatan yang dapat diterapkan di daerah.

Dialog berlangsung interaktif. Para penyuluh agama Kemenag Kota Pasuruan menyampaikan berbagai pengalaman dan kondisi yang mereka temui di lapangan, termasuk tantangan dalam menjaga toleransi dan merawat hubungan antarumat beragama.

Sesi diskusi tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus mencari solusi atas persoalan yang muncul di masyarakat. Berbagai pertanyaan dan masukan dari penyuluh mendapatkan respons langsung dari Tim KUB Kemenag Kanwil Jawa Timur.

Melalui dialog ini, Kemenag Kota Pasuruan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas penyuluh agama sebagai garda terdepan dalam merawat toleransi, mencegah konflik, dan memperkokoh kerukunan umat beragama.

Kerukunan, pada akhirnya, bukan sekadar angka dalam indeks. Ia harus hadir dalam keseharian masyarakat—terlihat dalam sikap saling menghormati, komunikasi yang terbuka, serta kemampuan hidup berdampingan di tengah keberagaman.

Pembukaan seperti ini lebih “newsworthy” karena pembaca langsung disuguhi isu utama dan statement penting, baru kemudian masuk ke konteks kegiatan.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *