APRI dan IPARI Kota Pasuruan Gelar Ngaji Hisab Awal Syawal 1447 H, Perkuat Pemahaman Ilmu Falak
Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) dan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Pasuruan menggelar kegiatan Ngaji Hisab Awal Bulan Syawal 1447 Hijriah pada Kamis (12/3). Kegiatan ini berlangsung di Musala Al Ikhlas Kantor Kementerian Agama Kota Pasuruan dan diikuti oleh para penyuluh agama Islam serta penghulu di lingkungan Kementerian Agama Kota Pasuruan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya edukasi sekaligus penguatan pemahaman ilmu falak, khususnya bagi para penyuluh agama Islam dan penghulu dalam memahami proses penentuan awal bulan Hijriah yang menjadi dasar pelaksanaan berbagai ibadah umat Islam.
Dalam kegiatan ini, para peserta bersama-sama melakukan perhitungan menggunakan metode hisab ephemeris untuk mengetahui posisi hilal menjelang awal bulan Syawal 1447 H. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh data bahwa ijtima’ (konjungsi) terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 08.22 WIB.
Sementara itu, posisi hilal saat matahari terbenam di markaz Bayt Al Hikmah Kota Pasuruan menunjukkan beberapa parameter astronomis sebagai berikut:
Matahari terbenam: 17.40 WIB
Tinggi hilal hakiki: 02° 10′ 27″
Tinggi hilal mar’i: 01° 55′ 49″
Elongasi: 05° 30′ 11″
Lama hilal di atas ufuk: 08 menit 45 detik
Data tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama mengenai kemungkinan visibilitas hilal serta perbandingannya dengan kriteria yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.
Ketua APRI Kota Pasuruan, Kholil, menyampaikan bahwa berdasarkan parameter tersebut, kemungkinan hilal tidak dapat terlihat di wilayah Kota Pasuruan.
“Kemungkinan besar hilal tidak dapat terlihat di Kota Pasuruan karena posisinya masih berada di bawah kriteria imkanur rukyat,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, APRI dan IPARI Kota Pasuruan berharap para penyuluh agama Islam dan penghulu semakin memahami proses ilmiah dalam penentuan awal bulan Hijriah. Dengan demikian, mereka dapat memberikan penjelasan yang tepat dan menyejukkan kepada masyarakat terkait dinamika penetapan awal Ramadan, Syawal, maupun bulan-bulan Hijriah lainnya.
Ketua IPARI Kota Pasuruan, Arwani, juga berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi para penyuluh dan penghulu dalam menyikapi kemungkinan adanya perbedaan penetapan awal Syawal.
“Melalui kegiatan ini kami berharap teman-teman penyuluh dan penghulu dapat memberikan pencerahan serta pemahaman yang menyejukkan kepada masyarakat apabila nanti terjadi perbedaan dalam penentuan awal Syawal tahun ini,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan diakhiri dengan sesi diskusi serta evaluasi bersama terkait metode perhitungan dan interpretasi data hisab yang telah dilakukan.
